CLICK FLAG TO TRANSLATE THIS PAGE
English French German Spain Italian Dutch Russian Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Bagaimana FOREX Menurut Hukum Islam ?

Semakin berkembangnya era Globalisasi, semakin berkembangnya Teknologi Modern semakin berkembang juga cara masing-masing orang mencari nafkah. Dengan adanya teknologi semakin mempermudah kita dalam segala hal termasuk mencari uang dengan tidak harus mengandalkan tenaga tetapi juga memanfaatkan teknologi yang ada, khususnya seperti mencari uang dengan jalan yang sebagian orang masih menganggap itu tabu, seperti halnya memanfaatkan teknologi internet atau di kenal istilah make money online (mencari uang di dunia maya) salah satunya adalah FOREX atau sering di kenal dengan istilah VALAS (Valuta Asing) tentunya di jalankan secara online. dalam hal ini bisnis investasi ini yang menjadi tren masa kini dengan perkembangan jaman, bagaimana menurut pendapat dan pandangan hukum islam ?


Pendapat negatif tentang trading valas adalah suatu bentuk gambling,pekerjaan yang tak menjajikan,beresiko tinggi, membutuhkan modal besar, tidak halal,  menyebabkan bisnis trading forex (valas) seringkali dipandang sebelah mata di masyarakat kita. Hal ini tidak dipungkiri karena adanya trader forex lokal yang seringkali menggunakan cara setengah judi (gambling) dalam memainkan sendiri uang klien mereka, tanpa ada rasa tanggung jawab akan uang klien yang bersangkutan. Kalau kebetulan menang akan lebih banyak klien yang memasukkan dana untuk mereka mainkan. Kalau pun kalah toh masih mendapat uang komisi. Yang menjadi korban tentu saja klien (anda).

Masyarakat Muslim khususnya seringkali ragu dalam menjalankan bisnis investasi ini dikarenakan seringkali menganggap sama halnya dengan hukum perjudian atau hukum riba seperti halnya renten atau bunga Bank. Forex sangatlah berbeda dengan Hukum Perjudian yang sifatnya mengundi nasib. dalam bertransaksi forex (valas) beberapa Broker (perusahaan pialang) telah memberikan fasilitas transaksi dengan sistem Syariah. Prof. Drs. Masijfuk Zuhdi menulis dalam bukunya yang berjudul MASAIL FIQHIYAH, Kapita Selecta Hukum Islam, bahwa Trading Forex (Perdagangan Valuta asing) di perbolehkan Dalam Hukum Islam.

Perdagangan valuta asing timbul karena adanya perdagangan barang-barang kebutuhan/komoditi antar negara yang bersifat internasional. Perdagangan (Ekspor-Impor) ini tentu memerlukan alat bayar yaitu UANG yang masing-masing negara mempunyai ketentuan sendiri dan berbeda satu sama lainnya sesuai dengan penawaran dan permintaan diantara negara-negara tersebut sehingga timbul PERBANDINGAN NILAI MATA UANG antar negara.
Perbandingan nilai mata uang antar negara terkumpul dalam suatu BURSA atau PASAR yang bersifat internasional dan terikat dalam suatu kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. Nilai mata uang suatu negara dengan negara lainnya ini berubah (berfluktuasi) setiap saat sesuai volume permintaan dan penawarannya. Adanya permintaan dan penawaran inilah yang menimbulkan transaksi mata uang. Yang secara nyata hanyalah tukar-menukar mata uang yang berbeda nilai. 

Perdagangan VALAS dalam HUKUM ISLAM
1. Ada Ijab-Qobul (perjanjian untuk memberi dan menerima)
• Penjual menyerahkan barang dan pembeli membayar tunai.
• Ijab-Qobulnya dilakukan dengan lisan, tulisan dan utusan.
• Pembeli dan penjual mempunyai wewenang penuh melaksanakan dan melakukan tindakan-tindakan hukum (dewasa dan berpikiran sehat) 

2. Memenuhi syarat menjadi objek transaksi jual-beli yaitu:
• Suci barangnya (bukan najis)
• Dapat dimanfaatkan
• Dapat diserahterimakan
• Jelas barang dan harganya
• Dijual (dibeli) oleh pemiliknya sendiri atau kuasanya atas izin pemiliknya
• Barang sudah berada ditangannya jika barangnya diperoleh dengan imbalan. 

Perlu ditambahkan pendapat Muhammad Isa, bahwa jual beli saham itu diperbolehkan dalam agama. 
"Jangan kamu membeli ikan dalam air, karena sesungguhnya jual beli yang demikian itu mengandung penipuan" (Hadis Ahmad bin Hambal dan Al Baihaqi dari Ibnu Mas'ud).
 
Jual beli barang yang tidak di tempat transaksi diperbolehkan dengan syarat harus diterangkan sifat-sifatnya atau ciri-cirinya. Kemudian jika barang sesuai dengan keterangan penjual, maka sahlah jual belinya. Tetapi jika tidak sesuai maka pembeli mempunyai hak khiyar, artinya boleh meneruskan atau membatalkan jual belinya. 

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi riwayat Al Daraquthni dari Abu Hurairah: 
"Barang siapa yang membeli sesuatu yang ia tidak melihatnya, maka ia berhak khiyar jika ia telah melihatnya". 

Jual beli hasil tanam yang masih terpendam, seperti ketela, kentang, bawang dan sebagainya juga diperbolehkan, asal diberi contohnya, karena akan mengalami kesulitan atau kerugian jika harus mengeluarkan semua hasil tanaman yang terpendam untuk dijual. 
Hal ini sesuai dengan kaidah hukum Islam: "Kesulitan itu menarik kemudahan"

Demikian juga jual beli barang-barang yang telah terbungkus/tertutup, seperti makanan kalengan, LPG, dan sebagainya, asalkam diberi label yang menerangkan isinya. Vide Sabiq, op. cit. hal. 135. Mengenai teks kaidah hukum Islam tersebut di atas, vide Al Suyuthi, Al Ashbah wa al Nadzair, Mesir, Mustafa Muhammad, 1936 hal. 55. 

JUAL BELI VALUTA ASING DAN SAHAM 
Yang dimaksud dengan valuta asing adalah mata uang luar negeri seperi dolar Amerika, poundsterling Inggris, ringgit Malaysia dan sebagainya. Apabila antara negara terjadi perdagangan internasional maka tiap negara membutuhkan valuta asing untuk alat bayar luar negeri yang dalam dunia perdagangan disebut devisa. Misalnya eksportir Indonesia akan memperoleh devisa dari hasil ekspornya, sebaliknya importir Indonesia memerlukan devisa untuk mengimpor dari luar negeri.
Dengan demikian akan timbul penawaran dan perminataan di bursa valuta asing. setiap negara berwenang penuh menetapkan kurs uangnya masing-masing (kurs adalah perbandingan nilai uangnya terhadap mata uang asing) misalnya 1 dolar Amerika = Rp. 12.000. Namun kurs uang atau perbandingan nilai tukar setiap saat bisa berubah-ubah, tergantung pada kekuatan ekonomi negara masing-masing. Pencatatan kurs uang dan transaksi jual beli valuta asing diselenggarakan di Bursa Valuta Asing (A. W. J. Tupanno, et. al. Ekonomi dan Koperasi, Jakarta, Depdikbud 1982, hal 76-77)
FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) TENTANG PERDAGANGAN VALAS (FOREX)
Ditetapkan di : Jakarta, 
Tanggal : 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M 
Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) no: 28/DSN-MUI/III/2002, tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf).
Menimbang :


  • Bahwa dalam sejumlah kegiatan untuk memenuhi berbagai keperluan, seringkali diperlukan transaksi jual-beli mata uang (al-sharf), baik antar mata uang sejenis maupun antar mata uang berlainan jenis. 
  • Bahwa dalam 'urf tijari (tradisi perdagangan) transaksi jual beli mata uang dikenal beberapa bentuk transaksi yang status hukumnya dalam pandang ajaran Islam berbeda antara satu bentuk dengan bentuk lain. 
  • Bahwa agar kegiatan transaksi tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam, DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang al-Sharf untuk dijadikan pedoman. Mengingat : 
Al-Qur'an dan Hadist Nabi menyebutkan :
  • Firman Allah menjelaskan "Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba" (QS. Al-Baqarah[2]:275 )
  • Hadis nabi dari Abu Sa'id al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan atas dasar kerelaan (antara kedua belah pihak)" (HR. al-baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban). 
  • Hadis Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari 'Ubadah bin Shamit, Nabi s.a.w bersabda: "(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya'ir dengan sya'ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai". 
  • Hadis Nabi riwayat Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad, dari Umar bin Khattab, Nabi s.a.w bersabda: "(Jual-beli) emas dengan perak adalah riba kecuali (dilakukan) secara tunai".
  • Hadis Nabi riwayat Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri, Nabi s.a.w bersabda: "Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; janganlah menjual perak dengan perak kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagaian atas sebagian yang lain; dan janganlah menjual emas dan perak tersebut yang tidak tunai dengan yang tunai". 
  • Hadis Nabi riwayat Muslim dari Bara' bin 'Azib dan Zaid bin Arqam : Rasulullah saw melarang menjual perak dengan emas secara piutang (tidak tunai). 
  • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram".
Ijma, Ulama sepakat (ijma') bahwa akad al-sharf disyariatkan dengan syarat-syarat tertentu. 

MEMPERHATIKAN : 

  1. Surat dari pimpinah Unit Usaha Syariah Bank Negara Indonesia (BNI) no. UUS/2/878 
  2. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada Hari Kamis, tanggal 14 Muharram 1423H/ 28 Maret 2002. 
MEMUTUSKAN :
Dewan Syari'ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG JUAL BELI MATA UANG (AL-SHARF). 
Pertama : Ketentuan Umum 
Transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan sebagai berikut: 
  1. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan). 
  2. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan). 
  3. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh). 
  4. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dan secara tunai. 

Kedua : Jenis-jenis transaksi Valuta Asing 
  1. Transaksi SPOT, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta asing untuk penyerahan pada saat itu (over the counter) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari. Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional. 
  2. Transaksi FORWARD, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas yang nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2x24 jam sampai dengan satu tahun. Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa'adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah). 
  3. Transaksi SWAP yaitu suatu kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga forward. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi). 
  4. Transaksi OPTION yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi). 

Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar